Senin, 28 November 2011

Cerita Lucu-ku Vol.3

Suatu hari, Evita dan Nonon akan pergi ke rumah Nonon seusai pulang kuliah. Mereka pulang dengan menggunakan mobil Evita. Tak lama di perjalanan, mereka akhirnya sampai di rumahnya Nonon. Saat akan memasuki pintu rumah, Evita menanyakan sesuatu tentang keadaan Nonon.

"Non, elo belum cerita ke gue," teriak Evita. "Kenapa elo sekarang agak sensitif sejak punya tato kepala kambing nyengir?"

"Bokap gue, Ta!"

"Kenapa sama bokap elo?"

"Beliau kayak-nya terpukul banget sejak kematian nyokap gue."

"Terpukul gimana?" tanya Evita. "Emang bokap elo petinju?"

"Ah, elo!" Nonon mendorong Evita. "Beliau itu sedih banget karena cintanya sama nyokap gue begitu mendalam..."

"Ohh..."

"Nanti elo liat deh, gimana dalamnya cinta bokap gue sama nyokap gue."

Mereka meluncur ke rumah Nonon. Suasana sepi begitu mereka masuk lewat pintu depan rumah itu.

"Bokap elo ke mana, Non?"

"Dia lagi ngebuktiin kedalaman cintanya sama nyokap gue."

"Maksudnya?"

"Dia lagi pergi ke makam nyokap gue. Itu dia lakukan sejak nyokap gue meninggal dua minggu yang lalu. Setiap hari dia pergi ke makam."

"Wah, begitu dalam cinta bokap elo itu, Non."

"Itulah yang gue bilang tadi. Yuk, kita masuk."

Mereka mengambil se-botol air dingin untuk menghilangkan haus. Sambil ngobrol dan melepas capek, Nonon cerita lagi soal keadaan bapaknya.

"Keadaan bokap gue yang terpukul itulah yang bikin gue ogah ngedugem lagi. Kasihan beliau, jadi kesepian banget."

Nonon cerita lagi kalau dia anak bungsu yang masih tinggal sama orangtuanya. Semua kakaknya sudah pada nikah dan hidup bersama keluarga mereka masing-masing. Waktu ibunya masih hidup, Nonon sering banget ngedugem hampir setiap hari. Sekarang dia baru sadar kalau hidup tanpa salah satu orangtua ternyata berat banget, terlebih lagi yang nggak ada itu ibu.

"Bokap gue udah tua, udah 70 tahun."

Evita angguk-angguk sambil meneguk minumannya. "Berarti keputusan elo untuk nggak ngedugem itu tepat banget."

Nonon tercenung, matanya menatap foto keluarga yang ada di dinding rumahnya. Bapak dan ibunya diapit sama anak-anak dan cucunya. Di foto itu mereka sedang tertawa.

"Nah, itu beliau pulang." Nonon berjalan ke pintu.

Dari dalam, Evita melihat orangtua dengan rambut yang sudah putih. Melihat fisiknya, bapaknya Nonon itu masih cukup segar dan energik.

"Assalamualaikum."

Evita dan Nonon menjawab salam orangtua itu.

"Pak, kenal-kan ini Evita, teman kuliah Nonon."

Evita mengangguk hormat. Bapak Nonon tersenyum dipaksakan. Di wajahnya tampak masih ada duka.

"Bapak habis ke makam ibunya Nonon," si bapak mulai cerita, sambil duduk di sofa.

Nonon membisiki Evita, "Gue ke belakang dulu, ya. Nyiapin makan malam buat beliau. Elo temenin beliau ngobrol, ya."

Evita mengangguk.

"Bapak harus ke makam ibunya Nonon setiap hari..." si bapak mulai cerita lagi.

"Wah, bapak cinta banget sama ibu, ya?" tanya Evita. "Ibu pasti punya banyak keistimewaan ya, Pak?"

Bapak Nonon tersenyum dan mengangguk-angguk.

"Ibu beruntung banget punya suami kayak Bapak. Cinta Bapak sama Ibu kayak cerita di novel-novel aja."

"Sebetulnya..." Bapak Nonon cerita lagi. "Waktu ibunya Nonon sekarat, beliau berpesan..."

"Apa pesannya, Pak?" potong Evita, penasaran. "Pasti supaya Bapak selalu menabur bunga di atas makamnya, ya? Apa beliau minta Bapak mendoakan setiap detik, supaya Bapak sama Ibu nanti ketemu di surga gitu?"

Si bapak menggeleng. "Pesannya : kalau Bapak mau nikah lagi, tunggu sampai rumput di atas kuburannya tumbuh dulu..."

Evita melongo.

"Itulah kenapa Bapak pergi ke kuburannya setiap hari buat nyiram rumput-nya, biar cepet tumbuh gitu lho..."

0 Komentar :

Posting Komentar

Silahkan sisipkan komentar jikalau anda berkunjung atau nyasar ke blog ini. Komentar anda sangat berguna dan berharga untuk menjadikan blog ini menjadi lebih baik. Mohon gunakan kata-kata yang sopan dalam berkomentar. Komentar SPAM, SARA dan sejenisnya tidak akan ditampilkan.

 
Design by Fuad XP | Bloggerized by Fuad XP - Fuad XP Premium | Free Download